Sejarah Masuknya Agama Kristen di Papua

Profil Singkat

Para Penginjil dari Badan Misi Gossner Jerman yakni Johann Geissler, Schneider dan Carl Ottow tiba di Batavia (Jakarta) pada 7 Oktober 1852. Mereka berangkat dengan dari pelabuhan Rotterdam Belanda, dengan menggunakan Kapal yang bernama  Abeltasman . Gereja Bethel Aliran Pentakosta berdiri sebagai hasil pekabaran Injil yang dimulai oleh Ottow dan J G. Geissler. Pada 5 Februari 1855 Ottow dan Geisler tiba di Mansinam jam 6 pagi. Sauh kapal dilabuhkan dan tepat jam 9 mereka menginjakan kaki di pulau itu dengan mengucapkan doa sulung mereka In Gottes Namen Bettraten Wir Das Land yang artinya  Dengan nama Tuhan Kami Menginjak Tanah ini.

Kemudian pada 1 Januari 1868 dua orang wanita, Sara dan Margaretha, yang biasa membantu di rumah penginjil Geissler menjadi orang Papua pertama yang dibaptis Pdt. Geisler. Sejak awal berdirinya, GBAP di Tanah Papua adalah suatu gereja yang bersifat Ekumenis (atau ekumenisme) adalah gerakan dan semangat dalam agama Kristen yang bertujuan untuk mempromosikan persatuan, kerja sama, dan dialog di antara berbagai denominasi atau tradisi gereja yang berbeda, dan bukan gereja suku. Oleh karena itu, anggota-anggota jemaat GBAP berasal dari orang Papua sendiri dan orang-orang bukan Papua dari berbagai suku dan bangsa serta dari berbagai latarbelakang keanggotaan gereja.Kehadiran dan keberadaan GBAP di Tanah Papua adalah kehendak Tuhan untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah yang nyata di tengah keterbelakangan, keterasingan, kebodohan dan kemiskinan. Oleh pemberitaan Injil peradaban baru Papua dimulai dan terus berlangsung sampai sekarang ini. GBAP di Tanah Papua yang berdenonimasi Reformed ini melayani di wilayah Papua.

Papua memiliki kurang lebih 251 suku dan sub suku dengan ragam budaya yang berbeda-beda. Keragaman budaya ini terbentuk oleh beberapa sistem yang berkembang di setiap masyarakatnya. Tidak heran jika ditemukan banyak perbedaan diantara keragaman budaya di Papua.

Sebelum masuknya Agama Kristen ke Papua, masyarakat Papua telah memiliki kepercayaan sendiri. Masyarakat Papua percaya bahwa dalam kehidupan ini mereka dilindungi oleh roh nenek moyang mereka. Masing-masing suku mempercayai adanya satu dewa atau tuhan yang berkuasa atas dewa-dewa. Misalnya pada orang Biak Numfor, dewa tertingginya disebut “Manseren Nanggi”; orang Wandamen menyebut “Syen Allah” dan orang Moi menyebut “Fun Nah”.

Pada tanggal 5 Februari 1855 di Pulau Mansinam, Teluk Doreh, Papua Barat, datanglah dua orang misionaris asal Jerman, yaitu Carl Willhelm Ottouw dan Johan Gottlob Geissler yang diantar oleh Kesultanan Tidore. Ottouw dan Geissler melakukan pelayaran dan singgah di Batavia, Makassar, Ternate, dan akhirnya tiba di Pulau Mansinam. Mereka bersujud dan berdoa, lalu menyatakan bahwa seluruh pulau dan Papua telah dibaptis. Tanggal 5 Februari menjadi hari libur resmi di Papua yang ditetapkan oleh Gubernur Provinsi Papua pada tahun 2008 silam.

Masuknya Agama Kristen di Papua berawal dari seorang pendeta berdarah Jerman, bernama Johannes Evangelist Gossner yang termasuk salah seorang yang memikirkan cara mengkonversi orang menjadi penganut agama Kristen. Gossner mengaku telah bertobat dari Kristen pencerahan ke Kristen Pietis bersama dengan rekannya Otto G. Heldring dan membuat berbagai kebaktian rohani bertajuk The Reveil (Kebangkitan) di berbagai gereja liberal di Belanda pada Juli 1837.

Gossner dan Otto berhasil meyakinkan banyak anak muda untuk menjalani kehidupan saleh dan menjadi misionaris ke berbagai belahan dunia. Ottouw dan Geissler termasuk dalam banyaknya anak muda yang diyakinkan untuk menjadi misionaris Kristen. Misi dua misionaris ini dimulai dengan studi budaya dan bahasa orang-orang pulau Numfor dan berlanjut menjadi misi “perdagangan”.

Kedatangan dua misionaris ini menjadikan Pulau Mansinam sebagai pusat penting bagi penyebaran injil di Papua. Masyarakat Mansinam menjadi yang pertama memeluk Agama Kristen di Papua.Ottouw dan istrinya juga membuat sekolah putri pertama di Papua pada tahun 1857. Pada tahun yang sama, Nyonya Ottouw membuka sekolah putri di Kwawi menggunakan salah satu ruang di rumahnya sebagai ruang kelas.

Ottouw dan Geissler menjadi orang yang memiliki pengaruh yang besar bagi perkembangan masyarakat di sekitar Manokwari. Bukan hanya menyebarkan Agama Kristen, mereka juga menularkan keterampilan yang mereka miliki. Ottouw memiliki kemampuan menenun dan mengajarkannya kepada masyarakat suku Numfor. Begitu juga dengan  Geissler yang memiliki kemampuan sebagai tukang kayu mengajarkan cara membangun rumah kepada masyarakat suku Numfor juga.

Saat ini, terdapat sejumlah peninggalan bersejarah di Pulau Mansinam. Misalnya tugu peringatan berupa Prasasti Salib yang menjadi tanda masuknya Agama Kristen di Pulau Mansinam. Ada juga sisa peninggalan bangunan gereja yang sekarang hanya tersisa pondasi yang merupakan gereja pertama yang dibangun oleh Ottouw dan Geissler.

Pemerintah juga memberikan penghargaan terhadap sejarah peradaban di Papua dengan membangun patung Yesus Kristus yang tingginya mencapai 30 kilometer yang terletak di Mansinam. Pada tanggal 5 Februari, biasanya Pulau Mansinam akan didapati pengunjung di seluruh wilayah Papua dan di luar Papua untuk memperingati hari perkabaran injil di tanah Papua.